Tidak seorangpun yang
menghitung-hitung berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau
aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya. Begitulah Pidato Presiden
Pertama Republik Indonesia, Bapak Ir. Soekarno pada Hari Ulang Tahun Republik
Indonesia tahun 1956. Beliau selalu menanamkan semangat kepada para pemuda
waktu itu agar dapat berjuang sebaik-baiknya dan melakukan yang terbaik bagi
bangsa Indonesia.
Tema Hari Ulang Tahun (HUT)
Sumpah pemuda yang ke-89 tahun 2017 ini adalah “Berani Bersatu”. Maksud tema
ini adalah kita sebagai bangsa Indonesia dengan segala heterogenitasnya dan
diberi kekayaan alam yang melimpah, budaya, dan kekayaan sumber daya manusia
yang luar biasa diharapkan untuk dapat bersatu padu dalam tujuan membangun
bangsa Indonesia menuju rakyat yang berakhlak mulia, aman, tentram dan
sejahtera.
Belum pernah ada dalam
sejarah sekelompok manusia yang terdiri dari ratusan suku bangsa, yang mendiami
wilayah seluas Nusantara, yang memiliki ratusan ragam bahasa, kemudian menjelma
menjadi bangsa yang satu, bertanah-air satu, dan berbahasa satu. Bangsa Romawi
dan Yunani di masa lalu dalam puncak kejayaannya, tidak mencapai kesatuan
bangsa-wilayah-bahasa. Tidak juga Amerika Serikat dan Cina di zaman modern ini.
Hanya bangsa Indonesia yang mampu meraih pencapaian ini.
28 Oktober 1928 lahir
sebuah pergerakan pemuda Indonesia, yang lahir dari semangat juang pemuda untuk
merebut kemerdekaan dari jajahan negara Belanda pada saat itu, maka bersatulah
jong Java, jong Sumateranen bond, jong Minahasa, jong Ambon dan lainnya,
sebagai bentuk untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal
Ika maka pemuda Indonesia pada saat itu menyepakati sumpah pemuda, yang
berbunyi :
Kami
putra putri Indonesia bersumpah berbangsa satu bangsa Indonesia,
Kami
putra dan putri Indonesia bersumpah bertanah air satu tanah air Indonesia,
Kami
putra dan putri Indonesia bersumpah berbahasa satu bahasa Indonesia.
Sederetan
penggerak perjuangan bangsa rata-rata adalah pemuda. Kartini ketika menyuarakan
Cri de Coueur (jeritan hati nurani) berusia 20 tahunan. Soekarno juga baru
berusia 26 tahun ketika menjadi pemimpin Partai Nasional Indonesia. Tan Malaka
mulai aktif di pergerakan saat berusia 16 tahun. Mohammad Hatta belum genap 25
tahun usianya saat mendirikan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Begitu juga
Sutomo, Gunawan Mangunkusumo beserta tokoh-tokoh yang lain mendirikan Boedi
Oetomo saat berusia 20-25 tahun. HOS Tjokroaminoto saat memimpin Syarikat Islam
juga berusia 25 tahun. Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni saat memaksa
Soekarno memproklamasikan kemerdekaan.
Deklarasi
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 telah membuktikan semangat pemuda untuk
menyatukan diri dalam melawan penjajahan Kolonial Belanda untuk mewujudkan
cita-cita kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Lahirnya sumpah pemuda, tidak
terlepas dari situasi konkrit rakyat Indonesia saat itu. Rakyat Indonesia saat
itu dibelenggu kolonial Belanda dengan penindasan yang begitu hebat, baik
keterhisapan melalui perampasan hak-hak dasar secara universal maupun personal.
Pemuda
adalah pemegang peranan penting bagi berlangsungnya kehidupan suatu bangsa.
Pemudalah yang menerima tongkat estafet strategis dalam meneruskan perjuangan
generasi tua. Karena itu, dalam setiap masanya, Pemuda selalu menjadi perhatian
dan di pundaknyalah harapan besar dipertaruhkan untuk membina zaman yang akan
datang. Karena perannya yang sangat strategis tersebut dan menentukan bagi baik
dan buruknya kehidupan.
Semangat
Sumpah Pemuda yang begitu kuat dari putra dan putri bangsa mampu mendobrak
sekat-sekat keberagaman (pluralitas) bangsa tanpa mengorbankan keberagaman itu
sendiri. Karena pengalaman menunjukan bahwa, perbedaan dalam keberagaman
kehidupan berbangsa tidak akan mampu menjadi sebuah kekuatan yang besar,
sinergis dan konstruktif apabila perbedaan dalam keberagaman itu tidak
disatukan menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai sebuah bangsa.
Seharusnya
Sumpah Pemuda menjadi nilai utama dan keyakinan serta selanjutnya menjadi
penginspirasi nilai yang terintegrasi dalam nilai-nilai baru dan menjadi
seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya dalam mempertahankan dan mengisi
kemerdekaan. Kemudian untuk merekatkan tali persaudaraan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bahasa Indonesia digunakan sebagai alat
komunikasi. Tidak sebatas sebagai alat komunikasi saja tetapi berperan dan
berfungsi sebagai proses membangun hubungan, dan membangun kepercayaan antar
warga bangsa.
Pemuda
hari ini adalah generasi pemimpin bangsa 10 hingga 20 tahun yang akan datang.
Karena itu juga harus memiliki kekuatan moral dan intelektual. Sebuah pepatah
berbunyi:
"Sesungguhnya
di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya sebuah bangsa."
Inilah
redefinisi partriotisme pemuda Indonesia masa kini, yang tidak kalah agung dari
patriotisme pemuda Indonesia 1928 ketika mencetuskan Sumpah Pemuda. Melalui
redefinisi tersebut Indonesia akan selangkah lebih dekat mewujudkan impian
menjadi bangsa yang besar di pentas dunia dengan berpijak pada kearifan
nasional dan keahlian putra putri bangsa sendiri.
Bung
Karno pernah berpesan, janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan
segitiga warna. Selama masih ada ratap tangis digubuk-gubuk kita pekerjaan
selesai. Berjuanglah sebanyak-banyaknya keringat. Jangan mewarisi abu Sumpah
Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu,
saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa,
bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir.
Kini, kemerdekaan sudah
diraih, negara ini sudah berkembang, walaupun masih kembang kempis. Kita semua
rakyat Indonesia tentunya harus memiliki satu tekad, meneruskan perjuangan para
pendiri bangsa ini. Kemerdekaan yang mereka persembahkan harus diisi, dan
tentunya semangat Sumpah Pemuda harus digelorakan dengan berlandaskan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945. Marilah kita bersatu, selalu melakukan kebaikan
dan bekerja sebaik-baiknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar