Minggu, 24 Desember 2017

MENANGKAP MAKNA SUMPAH PEMUDA


Tidak seorangpun yang menghitung-hitung berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya. Begitulah Pidato Presiden Pertama Republik Indonesia, Bapak Ir. Soekarno pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tahun 1956. Beliau selalu menanamkan semangat kepada para pemuda waktu itu agar dapat berjuang sebaik-baiknya dan melakukan yang terbaik bagi bangsa Indonesia.

Tema Hari Ulang Tahun (HUT) Sumpah pemuda yang ke-89 tahun 2017 ini adalah “Berani Bersatu”. Maksud tema ini adalah kita sebagai bangsa Indonesia dengan segala heterogenitasnya dan diberi kekayaan alam yang melimpah, budaya, dan kekayaan sumber daya manusia yang luar biasa diharapkan untuk dapat bersatu padu dalam tujuan membangun bangsa Indonesia menuju rakyat yang berakhlak mulia, aman, tentram dan sejahtera.

Belum pernah ada dalam sejarah sekelompok manusia yang terdiri dari ratusan suku bangsa, yang mendiami wilayah seluas Nusantara, yang memiliki ratusan ragam bahasa, kemudian menjelma menjadi bangsa yang satu, bertanah-air satu, dan berbahasa satu. Bangsa Romawi dan Yunani di masa lalu dalam puncak kejayaannya, tidak mencapai kesatuan bangsa-wilayah-bahasa. Tidak juga Amerika Serikat dan Cina di zaman modern ini. Hanya bangsa Indonesia yang mampu meraih pencapaian ini.

28 Oktober 1928 lahir sebuah pergerakan pemuda Indonesia, yang lahir dari semangat juang pemuda untuk merebut kemerdekaan dari jajahan negara Belanda pada saat itu, maka bersatulah jong Java, jong Sumateranen bond, jong Minahasa, jong Ambon dan lainnya, sebagai bentuk untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika maka pemuda Indonesia pada saat itu menyepakati sumpah pemuda, yang berbunyi :

Kami putra putri Indonesia bersumpah berbangsa satu bangsa Indonesia,
Kami putra dan putri Indonesia bersumpah bertanah air satu tanah air Indonesia,
Kami putra dan putri Indonesia bersumpah berbahasa satu bahasa Indonesia.

Sederetan penggerak perjuangan bangsa rata-rata adalah pemuda. Kartini ketika menyuarakan Cri de Coueur (jeritan hati nurani) berusia 20 tahunan. Soekarno juga baru berusia 26 tahun ketika menjadi pemimpin Partai Nasional Indonesia. Tan Malaka mulai aktif di pergerakan saat berusia 16 tahun. Mohammad Hatta belum genap 25 tahun usianya saat mendirikan Perhimpunan Indonesia di Belanda. Begitu juga Sutomo, Gunawan Mangunkusumo beserta tokoh-tokoh yang lain mendirikan Boedi Oetomo saat berusia 20-25 tahun. HOS Tjokroaminoto saat memimpin Syarikat Islam juga berusia 25 tahun. Wikana, Chaerul Saleh, dan Soekarni saat memaksa Soekarno memproklamasikan kemerdekaan.

Deklarasi Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 telah membuktikan semangat pemuda untuk menyatukan diri dalam melawan penjajahan Kolonial Belanda untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia sepenuhnya. Lahirnya sumpah pemuda, tidak terlepas dari situasi konkrit rakyat Indonesia saat itu. Rakyat Indonesia saat itu dibelenggu kolonial Belanda dengan penindasan yang begitu hebat, baik keterhisapan melalui perampasan hak-hak dasar secara universal maupun personal.

Pemuda adalah pemegang peranan penting bagi berlangsungnya kehidupan suatu bangsa. Pemudalah yang menerima tongkat estafet strategis dalam meneruskan perjuangan generasi tua. Karena itu, dalam setiap masanya, Pemuda selalu menjadi perhatian dan di pundaknyalah harapan besar dipertaruhkan untuk membina zaman yang akan datang. Karena perannya yang sangat strategis tersebut dan menentukan bagi baik dan buruknya kehidupan.
Semangat Sumpah Pemuda yang begitu kuat dari putra dan putri bangsa mampu mendobrak sekat-sekat keberagaman (pluralitas) bangsa tanpa mengorbankan keberagaman itu sendiri. Karena pengalaman menunjukan bahwa, perbedaan dalam keberagaman kehidupan berbangsa tidak akan mampu menjadi sebuah kekuatan yang besar, sinergis dan konstruktif apabila perbedaan dalam keberagaman itu tidak disatukan menjadi satu kesatuan yang utuh sebagai sebuah bangsa.

Seharusnya Sumpah Pemuda menjadi nilai utama dan keyakinan serta selanjutnya menjadi penginspirasi nilai yang terintegrasi dalam nilai-nilai baru dan menjadi seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Kemudian untuk merekatkan tali persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komunikasi. Tidak sebatas sebagai alat komunikasi saja tetapi berperan dan berfungsi sebagai proses membangun hubungan, dan membangun kepercayaan antar warga bangsa.

Pemuda hari ini adalah generasi pemimpin bangsa 10 hingga 20 tahun yang akan datang. Karena itu juga harus memiliki kekuatan moral dan intelektual. Sebuah pepatah berbunyi:
"Sesungguhnya di tangan dan langkah pemudalah urusan dan hidupnya sebuah bangsa."
Inilah redefinisi partriotisme pemuda Indonesia masa kini, yang tidak kalah agung dari patriotisme pemuda Indonesia 1928 ketika mencetuskan Sumpah Pemuda. Melalui redefinisi tersebut Indonesia akan selangkah lebih dekat mewujudkan impian menjadi bangsa yang besar di pentas dunia dengan berpijak pada kearifan nasional dan keahlian putra putri bangsa sendiri.

Bung Karno pernah berpesan, janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segitiga warna. Selama masih ada ratap tangis digubuk-gubuk kita pekerjaan selesai. Berjuanglah sebanyak-banyaknya keringat. Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau sekadar mewarisi abu, saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, bangsa, dan tanah air. Tapi ini bukan tujuan akhir.

Kini, kemerdekaan sudah diraih, negara ini sudah berkembang, walaupun masih kembang kempis. Kita semua rakyat Indonesia tentunya harus memiliki satu tekad, meneruskan perjuangan para pendiri bangsa ini. Kemerdekaan yang mereka persembahkan harus diisi, dan tentunya semangat Sumpah Pemuda harus digelorakan dengan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Marilah kita bersatu, selalu melakukan kebaikan dan bekerja sebaik-baiknya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar