Salah satu sifat para Nabi dan Rasul yang menarik dikaji yaitu sifat zuhud, terambil dari huruf (زهد) yang artinya meninggalkan atau tidak menyukai. Menurut Ibnu Qayyim, zuhud adalah terbebasnya hati dari belenggu dunia. Hingga seorang yang zuhud akan berupaya maksimal untuk meraih derajat-derajat akhirat.
Perbedaan zuhud dan wara' adalah bahwa zuhud itu berarti meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara' yaitu meninggalkan segala sesuatu yang dikhawatirkan akan menjadi akibat terjadinya mudharat atau kerugian di akhirat. Kerena itu, hati yang senantiasa mengikuti keinginan syahwat tidak layak menyandang gelar zuhud.
Ulama shalihin terdahulu tidak luput perhatiannya mengkaji amalan hati ini, dengan menulis kitab tentang hal tersebut, seperti Abdullah bin Mubarak, Wak'i guru Imam Syafi'i, hingga Imam Ahmad Ibnu Hambal secara rinci menjelaskan dalam bukunya berjudul ZUHUD.
Imam Ahmad mengurainya dalam tiga bentuk zuhud yaitu:
1. Zuhud dengan meningalkan yang haram; hal ini adalah zuhudnya orang awam
2. Zuhud dari berlebihan dari perkara halal; hal ini adalah zuhudnya segelintir orang tertentu (khawas)
3. Zuhud dengan cara meninggalkan segala sesuatu yang dapat memalingkan diri dari mengingat Allah; inilah zuhud orang-orang yang mengenal Allah SWT (maqam tertinggi)
Zuhud tidak bertentangan dengan banyaknya harta, tingginya pangkat atau kekuasaan, hingga memiliki beberapa istri. Sebab Rasulullah Saw, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As adalah contoh teladan yang memiliki semua kenikmatan yang lebih, sementara mereka semua adalah pelopor dan pengamal sifat zuhud.
Jadi zuhud tidak relevan dipertentangkan dengan kenikmatan, hanya saja sikap seseorang dengan nikmat itu erat kaitannya dengan zuhud. Artinya harta, pangkat dan popularitas tidak membuat ia jauh dari Penciptanya. Bahkan dijadikan ladang amal baginya seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman alayhis salam, Daud alayhis salam dan Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam.
Ali bin Abu Thalib r.a berucap, "Barang siapa yang mengumpulkan enam tabiat, maka dia tidak perlu bersusah payah untuk menuntut surga dan menghindar dari neraka, tabiat itu adalah:
pertama, mengenal Allah SWT, lalu menaati-Nya,
ke-2, mengetahui setan lalu menentangnya,
ke-3, mengetahui kebenaran lalu mengikutinya,
ke-4, mengetahui kebatilan lalu meninggalkannya,
ke-5, mengetahui hakikat dunia lalu menolaknya,
ke6, mengetahui hakikat akhirat lalu berusaha meraihnya."
Kisah zuhudnya Nabi Sulaiman a.s yang memiliki seribu rumah dengan atap kristal dan lantai baja. Suatu ketika ia mengendarai angin melewati pembajak kebun. Si petani dengan lirih berucap, 'Keluarga Daud dikaruniai sebuah kerajaan yang hebat'. Angin yang berhembus membawa suara itu, hingga didengar oleh Nabi Sulaiman AS kemudian memutar balik haluannya menemui petani yang takjub padanya.
Nabi Sulaiman berkata, 'Aku mendengar ucapanmu tadi, hanya saja aku melintas di sini agar engkau tidak mengharapkan sesuatu tidak mungkin kau bisa raih. Sungguh, satu kali TASBIH yang diterima Allah itu lebih baik dari pada segala anugrah yang diberikan kepada keluarga Daud. 'Si Pembajak itu lalu berdoa untuknya, 'Semoga Allah menghilangkan kegelisahanmu, sebagaimana engkau menghilangkan kegelisahanku.' "
ZUHUD BUKAN BERARTI TIDAK BERHARTA DAN BERKUASA, NABI SULAIMAN DAN DAUD ADALAH DUA CONTOH HAMBA YANG ZUHUD WALAUPUN BERHARTA DAN BERTAHTA...
Kajian Da'i Kamtibmas seri 274
Writer: Hamka Mahmud
Writer: Hamka Mahmud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar