Sabtu, 13 Oktober 2018

REAKSI vs RESPON


CEO Google, Sundar Pichai mulai banyak dikenal orang setelah menjabat pimpinan tertinggi raksasa perusahaan Google. Pichai terlahir di Tamil Nadu, India pada tahun 1972. Pichai dikenal oleh karyawan Google sebagai seseorang yang selalu berhasil merealisasikan rencana menjadi kenyataan. Beberapa proyek dia yang sukses yakni browser Chrome dan Android

Sundar Pichai memang dikenal sebagai orang yang ramah, cerdas, dan pekerja keras. Ada sebuah kisah inspiratif dari pidato oleh Sundar Pichai kepada anak buahnya. Dia berpidato tentang kecoa. Kisah inspiratif dibalik kecoa yang menjijikkan.

Di sebuah restoran, seekor kecoa tiba-tiba terbang dari suatu tempat dan mendarat di seorang wanita. Dia mulai berteriak ketakutan. Dengan wajah yang panik dan suara gemetar, dia mulai melompat, dengan kedua tangannya berusaha keras untuk menyingkirkan kecoa tersebut. Reaksinya menular, karena semua orang di kelompoknya juga menjadi panik. Wanita itu akhirnya berhasil mendorong kecoa tersebut pergi tapi, kecoa itu mendarat di pundak wanita lain dalam kelompok.

Sekarang, giliran wanita lain dalam kelompok itu untuk melanjutkan drama. Seorang pelayan wanita bergegas ke depan untuk menyelamatkan mereka. Dalam sesi saling lempar tersebut, kecoa berikutnya jatuh pada pelayan wanita. Pelayan wanita berdiri kokoh, menenangkan diri dan mengamati perilaku kecoa di kemejanya. Ketika dia cukup percaya diri, ia meraih kecoa itu dengan jari-jarinya dan melemparkannya keluar dari restoran.

Menyeruput kopi dan menonton hiburan itu, antena pikiran saya mengambil beberapa pemikiran dan mulai bertanya-tanya, apakah kecoa yang bertanggung jawab untuk perilaku heboh mereka?

Jika demikian, maka mengapa pelayan wanita tidak terganggu?

Dia menangani peristiwa tersebut dengan mendekati sempurna, tanpa kekacauan apapun.

So, para hadirin.. CEO dari India ini kemudian bertanya:

“Lalu apa yang bisa saya dapat dari kejadian tadi?”

Ia melanjutkan pidatonya..

“Dari tempat saya duduk, saya berpikir..

Kenapa 2 wanita karir itu panik, sementara wanita pelayan itu bisa dengan tenang mengusir kecoa?

Berarti jelas bukan karena kecoanya, tapi karena respon yang diberikan itulah yang menentukan. Ketidakmampuan kedua wanita karir dalam menghadapi kecoa itulah yang membuat suasana cafe jadi kacau.

Kecoa memang menjijikkan.
Tapi ia akan tetap seperti itu selamanya.
Tak bisa kau ubah kecoa menjadi lucu dan menggemaskan.

Begitupun juga dengan masalah.

Macet di jalanan, atau istri yang cerewet, teman yang berkhianat, bos yang sok kuasa, bawahan yang tidak penurut, target yang besar, deadline yang ketat, customer yang demanding, tetangga yang mengganggu, dsb.

Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah menyenangkan. Tapi bukan itu yang membuat semuanya kacau. Ketidakmampuan kita untuk menghadapi yang membuatnya demikian. Yang mengganggu wanita itu bukanlah kecoa, tetapi ketidakmampuan wanita itu untuk mengatasi gangguan yang disebabkan oleh kecoa tersebut.

Di situ saya menyadari bahwa, bukanlah teriakan ayah saya atau atasan saya atau istri saya yang mengganggu saya, tapi ketidakmampuan saya untuk menangani gangguan yang disebabkan oleh teriakan merekalah yang mengganggu. Reaksi saya terhadap masalah itulah yang sebenarnya lebih menciptakan kekacauan dalam hidup saya, melebihi dari masalah itu sendiri.
Apa hikmah dibalik kisah inspiratif dari pidato ini?

Para wanita bereaksi, sedangkan pelayan merespon. Reaksi selalu naluriah sedangkan respon selalu dipikirkan baik-baik. Sebuah cara yang indah untuk memahami HIDUP. Orang yang BAHAGIA bukan karena semuanya berjalan dengan benar dalam kehidupannya. Dia BAHAGIA karena sikapnya dalam menanggapi segala sesuatu di kehidupannya benar..!

Itulah kira-kira hikmah yang dapat diambil dari sebuah kisah inspiratif dari pidato CEO Google, Sundar Pichai.

"Masalah adalah sebuah masalah ..... RESPON kita lah yg akan menentukan bagaimana akhir dari sebuah masalah ...."

ZUHUDNYA PARA NABI DAN RASUL


Salah satu sifat para Nabi dan Rasul yang menarik dikaji yaitu sifat zuhud, terambil dari huruf (زهد) yang artinya meninggalkan atau tidak menyukai. Menurut Ibnu Qayyim, zuhud adalah terbebasnya hati dari belenggu dunia. Hingga seorang yang zuhud akan berupaya maksimal untuk meraih derajat-derajat akhirat.

Perbedaan zuhud dan wara' adalah bahwa zuhud itu berarti meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat di akhirat, sedangkan wara' yaitu meninggalkan segala sesuatu yang dikhawatirkan akan menjadi akibat terjadinya mudharat atau kerugian di akhirat. Kerena itu,  hati yang senantiasa mengikuti keinginan syahwat tidak layak menyandang gelar zuhud.

Ulama shalihin terdahulu tidak luput perhatiannya mengkaji amalan hati ini, dengan menulis kitab tentang hal tersebut, seperti Abdullah bin Mubarak, Wak'i guru Imam Syafi'i, hingga Imam Ahmad Ibnu Hambal secara rinci menjelaskan dalam bukunya berjudul ZUHUD.

Imam Ahmad mengurainya dalam tiga bentuk zuhud yaitu:

1. Zuhud dengan meningalkan yang haram; hal ini adalah zuhudnya orang awam

2. Zuhud dari berlebihan dari perkara halal; hal ini adalah zuhudnya segelintir orang tertentu (khawas)

3. Zuhud dengan cara meninggalkan segala sesuatu yang dapat memalingkan diri dari mengingat Allah; inilah zuhud orang-orang yang mengenal Allah SWT (maqam tertinggi)

Zuhud tidak bertentangan dengan banyaknya harta, tingginya pangkat atau kekuasaan, hingga memiliki beberapa istri. Sebab Rasulullah Saw, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman As adalah contoh teladan yang memiliki semua kenikmatan yang lebih, sementara mereka semua adalah pelopor dan pengamal sifat zuhud.

Jadi zuhud tidak relevan dipertentangkan dengan kenikmatan, hanya saja sikap seseorang dengan nikmat itu erat kaitannya dengan zuhud. Artinya harta, pangkat dan popularitas tidak membuat ia jauh dari Penciptanya. Bahkan dijadikan ladang amal baginya seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman alayhis salam, Daud alayhis salam dan Nabi Muhammad shallallahu alayhi wasallam.

Ali bin Abu Thalib r.a berucap, "Barang siapa yang mengumpulkan enam tabiat, maka dia tidak perlu bersusah payah untuk menuntut surga dan menghindar dari neraka, tabiat itu adalah:  

pertama, mengenal Allah SWT, lalu menaati-Nya,

ke-2, mengetahui setan lalu menentangnya,

ke-3, mengetahui kebenaran lalu mengikutinya,

ke-4, mengetahui kebatilan lalu meninggalkannya,

ke-5, mengetahui hakikat dunia lalu menolaknya,

ke6, mengetahui hakikat akhirat lalu berusaha meraihnya."

Kisah zuhudnya Nabi Sulaiman a.s yang memiliki seribu rumah dengan atap kristal dan lantai baja. Suatu ketika ia mengendarai angin melewati pembajak kebun. Si petani dengan lirih berucap, 'Keluarga Daud dikaruniai sebuah kerajaan yang hebat'. Angin yang berhembus membawa suara itu, hingga didengar oleh Nabi Sulaiman AS kemudian memutar balik haluannya menemui petani yang takjub padanya.

Nabi Sulaiman berkata, 'Aku mendengar ucapanmu tadi, hanya saja aku melintas di sini agar engkau tidak mengharapkan sesuatu tidak mungkin kau bisa raih. Sungguh, satu kali TASBIH yang diterima Allah itu lebih baik dari pada segala anugrah yang diberikan kepada keluarga Daud. 'Si Pembajak itu lalu berdoa untuknya, 'Semoga Allah menghilangkan kegelisahanmu, sebagaimana engkau menghilangkan kegelisahanku.' "

ZUHUD BUKAN BERARTI TIDAK BERHARTA DAN BERKUASA, NABI SULAIMAN DAN DAUD ADALAH DUA CONTOH HAMBA YANG ZUHUD WALAUPUN BERHARTA DAN BERTAHTA...

Kajian Da'i Kamtibmas seri 274
Writer: Hamka Mahmud