Kecerdasan yang Membunuh
Selamat datang di zaman yang menuhankan kecerdasan. Walaupun secara tersurat kita tak benar-benar mengatakannya, nyatanya dunia ini begitu memuja gelar; dibeli dan diburu. Kalau demi ilmu yang dipakai untuk berkhidmat maka ia mulia, tapi kalau untuk berkhidmat pada egonya, itu yang jadi problema.
Cerdas itu anugerah. Ia bisa memudahkan yang susah, menguraikan yang rumit, dan membantu yang sulit. Tapi jadi bencana kalau cerdas untuk membohongi, memperalat dan memperdaya. Itulah mengapa banyak Ulama bilang, bahwa kecerdasan bisa masuk dalam kategori "fitnah" yang menyesatkan manusia.
Fitnah? Ya. Jika penggunanya bertambah ilmu, tapi dengan ilmunya ia bermain-main dengan aturan-Nya. Fenomenanya seperti ini; orang yang beriman utuh dengan akal dan hatinya bernarasi Sami'na wa atha'na; "kami mendengar dan kami taat", tapi orang yang cerdasnya untuk membangkang akan bernarasi, sami'na wa nazharna; "kami mendengar tapi kami timbang-timbang dulu."
Barangkali inilah salah satu jawaban dari tanda tanya besar saya yang seringkali berpikir, mengapa Rasulullah berdoa dengan lugasnya, "Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu dan dari doa yang tidak dikabulkan."
Karena ilmu itu ada yang menghidupkan dan ada yang membunuh. Dalam salah satu dars-nya, Syaikh Ratib An Nablusy berkata, "tanda ilmu bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan pada Allah, dan tanda ilmu yang membahayakan adalah yang membuat pemiliknya mencari celah untuk menghindari aturan Allah."
Ada juga sebuah ungkapan Ulama —ada yang memisahkannya pada Rasulullah walaupun tidak kuat— bahwa "siapa yang bertambah ilmunya, tapi tak bertambah dekat dengan Allah, maka sebenarnya tidak bertambah kecuali bertambah jauh (dari Allah)"
Itulah mengapa, dalam literatur Islam, seorang 'Alim' bukanlah tentang orang yang banyak tahu saja. Orang digelari sebagai 'Alim' jika ia mengilmui kebenaran dan dia mengamalkannya. Adapun jika banyak tahunya, ia hanya masih sebatas 'naqil' atau sang pelaku copy paste saja.
Fitnah orang berilmu juga besar. Al Qur'an menyimbolkannya dengan sosok Haman, arsitek Fir'aun yang berjanji mempersembahkan pada rajanya sebuah menara tinggi untuk bisa menengok Tuhannya Musa. Dengan ilmunya, ia mampu membuat bangunan yang tak tertandingi secara teknologi kala itu, tapi tujuannya membuat murka langit.
Pernah melihat yang seperti itu di zaman ini? Ya. Saya pun nggak kaget lagi. Sejarah selalu mengulang dirinya sendiri. Fenomenanya sama, walau pelakunya berbeda. Itulah mengapa kita perlu jadikan Al Qur'an sebagai imam kita, logika sebagai makmumnya. Jangan dibalik, nanti jadinya seperti orang keblinger yang menghalalkan hubungan di luar nikah.
@edgarhamas