Senin, 09 Oktober 2023

Pesan Panglima TNI

PRAJURIT


Jalan hidupmu adalah pilihan.
Tak perlu cemas dengan hari esokmu yang belum tentu.
Lalui saja hari ini dengan sabar hingga datang malam buatmu.
Engkau tak perlu mendambakan dunia yang serba neka.
Cukuplah merasa bahagia bila engkau mampu bertahan dengan beratnya kehidupan.

Engkau telah menukar masa remajamu yang penuh canda tawa,
Dengan perjuangan, ketabahan, dan keprihatinan yang mendalam.

Engkau tak bisa memiliki banyak harta,
Walaupun kecerdasanmu memungkinkannya.
Tak perlu merasa rendah diri bila engkau tak bisa bercerita tentang mobil-mobil yang ingin engkau miliki. Karena bis atau truk cukup mengantarkanmu ke tempat yang ingin kau tuju.

Tak usah merasa kurang pengetahuan bila engkau tak tahu di mana tempat makan yang enak-enak, kafe-kafe dan resto-resto. Karena makan hanyalah untuk membuatmu kuat berdiri dan berlari. Walaupun makan siang dan malammu adalah nasi yang di masak dini hari. Berbahagialah bila engkau mampu puasa, menahan diri di antara rekan-rekanmu yang berpesta-pora tiap hari.

Tak usah merasa penasaran bila engkau tak pernah merasakan nyamannya tidur di kamar hotel-hotel.
Bukankah engkau sering terlelap bila kau dapati rindangnya pohon atau tenda yang engkau dirikan?

Bila engkau tak memiliki bekal uang dalam sakumu, tetaplah percaya diri.
Bukankah udara, air dan matahari masih disediakan gratis buatmu?
Engkau tak perlu kehilangan senyum ceria.

Bila engkau tak sempat bertamasya melihat indahnya negeri dengan pesawat-pesawat. Tak usah cemas, karena kamu akan mendapatkan pengalaman luar biasa dengan pesawat angkut yang kau tinggalkan saat pesawat itu masih di awan. Bukankah engkau akan senang tak terkira bila payungmu terbuka dan engkau selamat ketika menginjakan kaki di tanah?

Bila hingar bingar dunia telah mereda, sering-seringlah engkau terjaga.
Dingin malam yang menembus sepatu, jaket dan topi bajamu, tak perlu membuat hatimu beku.
Peluk saja senjatamu dengan harapan….
Ketahuilah jawaban: “ Mengapa engkau lakukan semua ini…”

Bila engkau selesai melaksanakan tugas di tempat yang jauh, dan pulang membawa banyak luka. Tidak usah merasa kecewa bila di bandara atau di stasiun tak ada yang menjemputmu, apalagi mengalungi bunga. Kau boleh melenggang pulang dengan ransel dan pikulan barangmu.
Di perjalanan kau akan merasa cukup berarti, bila ada seseorang yang menantimu dengan kerinduan.

Bila engkau berhasil berbuat sesuatu dengan baik, tapi tidak dipuji…
Janganlah engkau berkecil hati.
Dan bila engkau melakukan sedikit kesalahan…, caci maki tak usah membuatmu sakit hati.
Milikilah perasaan yang lapang, lembut dan mesra, berusahalah mempunyai sifat yang terpuji.

Jangan lupa engkau juga harus pandai memilih tempat berdiri,
Tempatmu bukanlah di tengah orang kaya, orang licik dan tamak,
Sebab mereka akan membeli jiwa besarmu dengan harga yang tidak seberapa.

Akrablah dengan orang kebanyakan, orang yang hidupnya prihatin, miskin dan papa.
Bila keadaan memaksamu untuk memilih, pilihlah tempat bersama mereka,
Gunakan tenaga dan budi baikmu, tanpa mengharap balas jasa ataupun sekedar ucapan terimakasih.
Semoga mereka akan berdo’a untuk kesejahteraan hidupmu.

Bila perjalanan hidup telah berakhir…, dan engkau temui kematian.
Jangan bersedih bila engkau dimakamkan di tanah sepi, yang tak pernah di kunjungi lagi.
Semoga dosamu diampuni dan amal baik menjadi penghiburmu.

Tetapi bila engkau sedikit beruntung…
Penguburan jasadmu akan di upacarakan…
Atasan, rekan dan bawahanmu,  akan memberi penghormatan kebesaran buatmu….
Kisah hidupmu akan di bacakan….
Dan….peti matimu akan diselimuti kain berwarna…
Kain bendera yang selama hidup engkau bela....

Gatot Nurmantyo


Minggu, 05 April 2020

Sukses adalah Hasil Sebuah Proses Perjuangan


Dulu di Jepang, ada anak laki-laki, tidak pintar, sakit-sakitan. Tidak ganteng di kelas duduknya paling belakang karena takut disuruh maju ke depan oleh Guru. Tiap hari nemani Ayahnya di bengkel reparasi mesin pertanian di desa Kamyo distrik Shizuko.

Di usia 8 tahun dia mampu mengayuh sepeda sejauh 14 km hanya untuk melihat Pesawat Terbang. Usia 15 tahun putus sekolah dan bekerja di bengkel mesin di Hary Shokai Company. Usia 21 tahun diserahi buka cabang karena rajin. Bengkelnya maju pesat, tapi dia tak puas dan memutuskan jadi wirausaha dengan buka bengkel sendiri dan memproduksi Ring Piston. Sayang TOYOTA menolak karyanya karena dianggap jauh dari Standar. Dia di bully dan diejek teman2nya. Dia sedih dan jatuh sakit. Setelah sembuh, dia putuskan kuliah untuk cari ilmu. Namun dia Drop out tidak bisa meneruskan kuliah. Dia berusaha dan mencoba dan selalu gagal berkali-kali.

Tahun 1947, Jepang porak poranda. Hidupnya makin parah, semua dijual untuk kebutuhan sehari hari termasuk mobil kesayangannya dia jual. Dari kondisi inilah titik balik kehidupannya. Dia punya sepeda kayuh satu-satunya. Dia pasang motor kecil di sepedanya. Tanpa disangka sepeda yg ada motor kecilnya itulah yg merubah hidupnya. Banyak yg mau membeli, akhirnya dia memproduksi banyak hasil karyanya itu. Usahanya berkembang pesat hingga merambah produksi mobil dan menggurita di seluruh dunia termasuk Indonesia. Dia menjadi Founding Father yang melegenda. Dia SOICHIRO HONDA, pemilik Perusahaan Honda dari Jepang.

Apa yg dia ucapkan????

Tidak ada sukses tanpa perjuangan...!!!

Orang Hanya melihat Saat ini di saat aku berdiri dengan deretan mobil dengan segala kesuksesanku. Ketahuilah itu cuma 1% keberhasilanku 99% adalah kegagalanku jarang orang yang mau melihatnya. Orang lebih silau dengan hasil   kesuksesan. Tanpa mau melihat bagaimana kesuksesan itu dibentuk melalui sebuah proses yang berat, susah payah, jatuh bangun, dicaci, diejek, di-bully, dikhianati, diremehkan. Sukses butuh semangat pantang menyerah,  perjuangan dan doa, bahkan darah dan air mata.

Sabtu, 04 April 2020

SEJENAK PAGI


Sebagaimana kita ketahui, hidup kita jadi susah, lantaran memang kita banyak betul dosanya. Dosa-dosa kita mengakibatkan kehidupan kita menjadi tertutup dari Kasih Sayangnya Allah. Kesalahan-kesalahan yang kita buat, baik terhadap Allah, maupun terhadap manusia, membuat kita terperangkap dalam lautan kesusahan yang sejatinya kita buat sendiri. Hidup kita pun banyak masalah.

Lalu Allah datang menawarkan bantuan-Nya, menawarkan kasih sayang-Nya, menawarkan ridha-Nya terhadap ikhtiar kita, dan menawarkan ampunan-Nya. Tapi kepada siapa yang Allah bisa berikan ini semua? Kepada siapa yang mau bersedekah. Kepada yang mau membantu orang lain. kepada yang mau peduli dan berbagi.

Kita memang susah. Tapi pasti ada yang lebih susah. Kita memang sulit, tapi pasti ada yang lebih sulit. Kita memang sedih, tapi barangkali ada yang lebih sedih. Terhadap mereka inilah Allah minta kita memperhatikan jika ingin diperhatikan.

Mari lawan yg negatif pada diri ini dengan segera melakukan positif, sekecil apapun. Kita butuh istiqomah. Rubah pandangan bahwa sunnah, dikerjakan berpahala tidak dikerjakan tidak apa2 menjadi segera tambahkan yg sunnah (sholat dhuha, tahajud dll), melengkapi yg wajib. Perbanyak sunnah yg akan menutupi kekurangan wajib kita.

Terus berikan, berikan dan berikan hati kita, harta kita dan ilmu kita kepada sesama. Tidak ada ceritanya memberikan tambah miskin, tambah sesangsara, justru begitu memberikan hati tambah lapang, kesukitan terurai, kemurahan Allah akan turun, akan ditambah ilmu dan harta kita dan lain sebagainya.

Dorong diri sendiri dan orang lain untuk segera berbuat baik dan terus tingkatkan, walau berawal dari satu biji kurma. Akhirnya, mintalah doa kepada Allah, agar Allah terus menerus membukakan pintu ilmu, hikmah, taufiq dan hidayah-Nya hingga sampai kepada derajat “mukhlishiina lahuddien”, derajat orang-orang yang mengikhlaskan diri kepada Allah.

Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat. Robbana Taqobbal Minna. Ya Allah Terimalah dari Kami (Amalan Kami). Aamiin Yaa Robb

Jumat, 03 April 2020

Menjadi Islam Juga Harus Belajar Ilmu Dunia

Islam mengajak para pemeluknya untuk menguasai ilmu-ilmu dunia, karena 3 hal utama:

1. Manusia beriman diperintahkan untuk memakmurkan dunia, dan memakmurkan dunia harus dengan ilmu yang benar.

2. Allah menghidupkan manusia bukan untuk menderita. Ada laut dan daratan di hadapannya untuk dieksplorasi dan dimanfaatkan. Allah juga menghalalkan barang-barang dunia sebagai perhiasan dan perkakas hidup.

3. Dakwah ini akan lebih luas diterima oleh manusia jika kita punya negara dan peradaban yang tinggi. Fasilitas yang memadai akan memaksimalkan capaian dakwah.

Syaikh Muhammad Al Ghazali dalam Kitab "Sirru Ta'akhuril Arab wal Muslimin"

BUKU ADALAH TAMAN ORANG BERAKAL

الكتب بساتين العقلاء
“ Buku adalah taman untuk orang –orang berakal “

PENJELASAN :

1. Taman adalah sesuatu yang menyenangkan kita berada di dalamnya ,maka seseorang yang sudah gemar membaca ,maka ia seakan-akan berada di dalam taman ,karena itu baginya tiada hari tanpa membaca buku .

2. Sebaik –baik teman duduk adalah buku dan sebaik –baik perhiasan dirumah adalah buku 

3. Buatlah perpustakaan atau taman membaca di rumah ,agar anak- anak anda menjadi generasi pembaca ,karena sungguh merugi mereka yang tidak suka membaca .

4. Anggarkanlah dari setiap bulan penghasilan anda untuk membeli buku dan ajaklah anak-anak ke toko buku ,kemudian ajarkan mereka untuk memilih buku yang berkualitas kemudian hadiahkan kepada mereka ,sebab diantara hadiah terbaik kepada anak adalah buku .

5. Allah memerintahkan membaca sampai dua kali dalam surah al alaq ini menandakan pentingnya membaca 

6. Membaca itu dapat meningkatan kemampuan verbal dan linguistik ,sehingga orang yang rajin membaca beda cara berbicaranya dengan yang rajin membaca , sampai ada seorang ulama berkata “ Bicaralah 5 menit ,maka akan aku tebak buku apa yang engkau baca “ 

7. Membaca dapat mencegah rabun mata ,karena ia menguatkan dan mengaktifkan otot-otot mata 

8. Membaca bisa membentuk karakter seseorang ,ia bisa menjadi baik dan buruk tergantung dari jenis buku apa yang ia baca, maka pilihlah bacaan yang berkualitas  , sampai ada pepatah “ Apa yang kita baca sekarang , seperti itulah kita 20 tahun yang akan datang .

9. Membaca membuat seseorang menjadi dewasa ,arif dan bijaksana dalam menghadapi kehidupan , karena ada ilmu yang menuntunnya , Allah berfirman “ Apakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu ? ( Azzumar 9 )

10. Membaca itu meningkatkan kekuatan memori ,maka semakin sering membaca maka akan semakin kuat ingatan dan terhindar dari penyakit pikun

- Faisal Kunhi -

PERSAUDARAAN ADALAH ANUGRAH


Persaudaraan adalah menyayangi, bukan menyaingi
Persaudaraan adalah mendidik, bukan membidik
Persaudaraan merangkul, bukan memukul
Persaudaraan membina, bukan  menghina
Persaudaraan mencurahkan, bukan memurahkan
Persaudaraan mencari solusi bukan mencari sensasi
Persaudaraan membutuhkan, bukan meruntuhkan
Persaudaraan menghargai, bukan melukai
Persaudaraan  membela, bukan mencela

Kadang saudara yang suka mentraktir kita, BUKAN karena mereka berlebihan tapi, karena mereka meletakkan PERSAUDARAAN MELEBIHI UANG. Kadang Saudara yang memohon MAAF TERLEBIH DULU setelah Pertengkaran, BUKAN karena mereka SALAH tapi, karena mereka MENGHARGAI sebuah Persaudaraan. Kadang2 Saudara yang selalu share WA ke kita, bukan karena merasa PINTAR & menggurui  tapi karena ingat pada KITA.

Suatu Hari ada yang mengingatkan tentang agama dan Iman. Bukan karena merasa baik dan sudah sempurna tapi itulah perwujudan persaudaraan karena Allãh SWT. Suatu saat, kita semua akan TERPISAH, baik oleh jarak maupun ajal yang menjemput kita. Namun ada Saudara yang terus mendoa'kan kita. Suatu saat Anak-anak dan Cucu-Cucu kita akan bertemu mereka dan bercerita Dulu Kita Pernah Bersama.

Persaudaraan tidak mencari-cari kesalahan, akan tetapi menutupi kesalahan. Persaudaraan yang Abadi berlandaskan hati yangTULUS dan IKHLAS. Persaudaraan akan terus berlangsung walau banyak sekali halangannya.

Pada satu Waktu Sebagian cuma memperhatikan KESUKSESAN kita, tapi ada sebagian saudara yang peduli akan kondisi KESEHATAN kita, maka itulah Persaudaraan yg sejati. Suatu hari kita terlena dalam canda dan tawa tapi ada yang mengingatkan agar kita tidak pernah lalai.

Itulah SAUDARA SEJATI

Kamis, 05 September 2019

Kecerdasan yang Membunuh

Kecerdasan yang Membunuh



Selamat datang di zaman yang menuhankan kecerdasan. Walaupun secara tersurat kita tak benar-benar mengatakannya, nyatanya dunia ini begitu memuja gelar; dibeli dan diburu. Kalau demi ilmu yang dipakai untuk berkhidmat maka ia mulia, tapi kalau untuk berkhidmat pada egonya, itu yang jadi problema.

Cerdas itu anugerah. Ia bisa memudahkan yang susah, menguraikan yang rumit, dan membantu yang sulit. Tapi jadi bencana kalau cerdas untuk membohongi, memperalat dan memperdaya. Itulah mengapa banyak Ulama bilang, bahwa kecerdasan bisa masuk dalam kategori "fitnah" yang menyesatkan manusia.

Fitnah? Ya. Jika penggunanya bertambah ilmu, tapi dengan ilmunya ia bermain-main dengan aturan-Nya. Fenomenanya seperti ini; orang yang beriman utuh dengan akal dan hatinya bernarasi Sami'na wa atha'na; "kami mendengar dan kami taat", tapi orang yang cerdasnya untuk membangkang akan bernarasi, sami'na wa nazharna; "kami mendengar tapi kami timbang-timbang dulu."

Barangkali inilah salah satu jawaban dari tanda tanya besar saya yang seringkali berpikir, mengapa Rasulullah berdoa dengan lugasnya, "Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu dan dari doa yang tidak dikabulkan."

Karena ilmu itu ada yang menghidupkan dan ada yang membunuh. Dalam salah satu dars-nya, Syaikh Ratib An Nablusy berkata, "tanda ilmu bermanfaat adalah ilmu yang mendekatkan pada Allah, dan tanda ilmu yang membahayakan adalah yang membuat pemiliknya mencari celah untuk menghindari aturan Allah."

Ada juga sebuah ungkapan Ulama —ada yang memisahkannya pada Rasulullah walaupun tidak kuat— bahwa "siapa yang bertambah ilmunya, tapi tak bertambah dekat dengan Allah, maka sebenarnya tidak bertambah kecuali bertambah jauh (dari Allah)"

Itulah mengapa, dalam literatur Islam, seorang 'Alim' bukanlah tentang orang yang banyak tahu saja. Orang digelari sebagai 'Alim' jika ia mengilmui kebenaran dan dia mengamalkannya. Adapun jika banyak tahunya, ia hanya masih sebatas 'naqil' atau sang pelaku copy paste saja.

Fitnah orang berilmu juga besar. Al Qur'an menyimbolkannya dengan sosok Haman, arsitek Fir'aun yang berjanji mempersembahkan pada rajanya sebuah menara tinggi untuk bisa menengok Tuhannya Musa. Dengan ilmunya, ia mampu membuat bangunan yang tak tertandingi secara teknologi kala itu, tapi tujuannya membuat murka langit.

Pernah melihat yang seperti itu di zaman ini? Ya. Saya pun nggak kaget lagi. Sejarah selalu mengulang dirinya sendiri. Fenomenanya sama, walau pelakunya berbeda. Itulah mengapa kita perlu jadikan Al Qur'an sebagai imam kita, logika sebagai makmumnya. Jangan dibalik, nanti jadinya seperti orang keblinger yang menghalalkan hubungan di luar nikah.

@edgarhamas